6/30/2007

Gak mau baju krah

Minggu-minggu terakhir ini Azka bikin ulah. Entah kenapa, dia nggak mau lagi pake baju yang ada krahnya. Katanya gatel. Baju seperti di gambar itulah yang sekarang ini dia paling nggak suka. Lihat saja tampang marah dan sebelnya yang membuat kami justru makin sayang. Padahal baju-baju itu biasa juga dia pake selama ini. Akhir-akhir ini dia lebih senang pake kaos oblong.

Tapi sebetulnya kalau kita mau lebih bijak. Anak kita tidak pernah memperdulikan penampilan mereka, mau baju sobek sana-sini, mau baju warna sudah butulan, mau hanya kaos singlet saja. Mereka tetap melangkah kemana-mana dengan rasa percaya diri. Hanya terkadang kitalah yang terlalu memaksakan kehendak. Anak harus pake baju bagus, sepatu bagus. Kadang dengan alasan malu sama orang lain. Sebetulnya yang malu yang orangtuanya, anak kita tetap saja percaya diri. Itulah keunikan anak-anak kita.

Tumbuh Gigi Lagi

Hari ini, Sabtu 30 Juni 2007 kami ajak Sarah ke rumah sakit Sarjito Yogyakarta untuk periksa gigi. Kenapa? Ada yang sakit? Nggak. Ada gigi Sarah yang tumbuh lagi, tepatnya gigi depan (namanya apa ya?). Tapi yang jadi masalah tumbuhnya gigi baru ini mendesak gigi yang sudah ada. Jadi mungkin gigi lama harus dicabut. Tapi ngga tau juga analisa dokter. Biasanya yang namanya periksa gigi, nggak cukup sekali saja, musti bolak-balik. Entah mesti ronsen dulu, atau dikasih obat dulu lalu tunggu beberapa hari. Ya mudah-mudahan tidak merepotkan kami. Kalaupun kami mesti repot, kami terima saja dengan ikhlas.

6/29/2007

Rapotan

Hari ini, 29 Juni 2007 adalah hari rapotan bagi Sarah. Selama setahun hasil evaluasi belajar mengajar akan ditunjukkan kepada kami. Bagi kami hal mendebarkan juga, takut jangan-jangan ada yang kurang pada diri anak kami. Jangan-jangan anak kami belum lancar membaca dibanding teman-temannnya, jangan-jangan anak kami nakal di sekolah, intinya kami takut prestasi anak kami kurang dibanding teman-temannya. Tapi sesungguhnya kekhawatiran seperti ini terlalu berlebihan. Anak pasti punya kemampuan sendiri-sendiri, jangan disamakan dengan anak yang lain
Informasi dari bu guru Sarah (Bu Alya dan Bu Yessi) cukup melegakan kami. Sarah di sekolah, tampaknya seperti Sarah yang kami harapkan. Membaca sudah lumayan lancar (untuk ukuran anak seusia dia), menghapal ayat sudah lumayan banyak, kerjasama dengan teman juga baik. Alhamdulillah.

Kemana liburan mbak Sarah?? Mau ikut English For Children di Universitas Negeri Yogyakarta.

6/28/2007

Nonton TV Seperlunya

Tidak menonton TV adalah baik. Tapi kadang-kadang anak-anak kita perlu juga nonton TV. Mengapa? Tidak menonton TV membuat Sarah dan Azka sangat aktif bergerak kesana kemari, manjat jendela, naik ke tempat tidur, lari kesana kemari. Akibatnya kalau tiap hari begitu, tampak Sarah dan Azka kelelahan fisik. Hal ini mesti diredam. Gimana caranya? Nah, kalau menunjukkan tanda-tanda kelelahan fisik, inilah saatnya TV boleh ditonton. Tapi nggak tiap hari, praktis Sarah dan Azka mungkin paling banter hanya nonton seminggu 2-3 kali saja, dan itupun harus dipilih betul kecocokan acaranya.

Laptop Si Unyil, Petualangan Si Bolang, Wisata Kuliner, adalah contoh-contoh acara yang biasa ditonton mereka. Sinetron jangan harap bisa ditonton. Sponge Bob, Kapten Tzubasa kadang mereka tonton, tapi kami merasa acara itu gak cocok sama sekali buat Sarah dan Azka. Nonton VCD, wah ...kami gak punya playernya. Pengen beli player, tapi duit gak juga terkumpul, selalu saja ada kebutuhan yang perlu didahulukan.

Belum Ketemu Jawab

Kami hampir selalu (meski tidak selalu setiap hari) sholat magrib berjamaah di masjid Darussalam Komplek Markas Brimob Baciro Yogyakarta. Masjid yang cukup luas dengan halaman yang lapang, tidak jauh lokasinya dari kediaman kami.

Setiap kali berada di masjid untuk sholat, Azka menunjukkan perilaku yang beda di banding kakaknya, Sarah. Azka selalu tidak mau sholat, meskipun kami sudah beri pengertian untuk sholat. Dia cenderung hanya berlari-larian ke sana ke mari dan tidak menunjukkan fokus konsentrasi untuk sholat. Kalaupun, mau sholat, itupun hanya sejenak saja. Hal ini beda sekali dengan Sarah pada saat umur yang sama. Sarah cenderung tertib.

Adakah yang salah? Kami belum tau pasti jawabnya. Apa mungkin karena umurnya belum nyampe? Saat ini kami coba berpikir gimana caranya supaya dia mengerti betul tujuan kita berangkat ke masjid. Pelan-pelan kami coba terus. Mudah-mudahan bisa.

6/26/2007

Tutup Tahun

Semua sekolah pasti punya acara yang satu ini, tutup tahun. Sekolah Sarah, TKIT Salman Al Farisi Warungboto Yogyakarta, tahun ini memilih Gedung Ganesha APMD untuk tempat acara tutup tahun. Gedung dengan halaman yang cukup luas, lay out panggung yang representatif dan nyaman bagi anak-anak tampak cocok sebagai tempat pentas tutup tahun.

Seeungguhnya anak-anak kita adalah anak yang luar biasa. Mereka mengekspresikan kemampuannya dengan polos, lugu, tanpa beban dan tanpa rasa takut sama sekali. Namun, jangan harap pentas demikian tertib sebagaiman halnya pentas orang-orang dewasa, tapi justru dengan kepolosan merekalah, kami para orangtua yang hadir demikian bangga dan terhibur. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari, menunggu dengan sabar hingga waktunya pentas.

Sarah meskipun udah 3 harian sakit panas, kata dokter alergi pernapasan, tampak begitu berbinar-binar wajahnya, rasa sakit, pusing dan meriang tidak dihiraukan lagi. Berkumpul dengan teman, bersemangat ingin pentas, begitulah terlihat dari raut wajah dan pembawaan tubuh.

6/25/2007

Open House

Open House. Begitulah program calon sekolah Azka, tepatnya di TKIT Salman Al Farisi Warungboto Yogyakarta.


Di Open House ini orang tua terutama siswa baru, dikenalkan dengan berbagai metode dan alat belajar mengajar yang digunakan di sekolah. Macam-macam ragamnya. Ada bunyian botol yang diisi air, ada apolo air sabun yang dimasukkan plastik, ada aneka puzzle huruf maupun angka, ada prosotan, komputer, ada perpustakaan. Intinya orang tua boleh melihat dan menanyakan dan bagi calon siswa boleh mencoba sepuasnya.

Di acara inilah kami menyadari bahwa sekolah tidak main-main dalam mendidik siswa, suasana ringan dan tidak serius, terlihat dari desain layout kelas yang sangat bagus. Warna dinding yang aktraktif, keamanan juga diutamakan.

6/23/2007

Ambruk...

Lima hari SArah dirawat di PKU Muhamaddiyah Yogyakarta karena demam berdarah. Lima hari pula kami, bolak-balik rumah ke rumah sakit untuk gantian menjaga dia. Pagi hari hingga sore hari menjadi jatah tugas ibunya, tak ketinggalan Azka adik tercintanya Mbak Sarah ikut juga ke rumah sakit. Giliran malam hingga pagi menjadi tugas Bapaknya untuk menjaga, Alhamdullilah Mbak Sarah tidak begitu rewel dan menyulitkan kami. Praktis yang sulit hanya ketika tiap hari dia harus di ambil darah untuk tes trombosit dsb. Syukurlah sudah 2 mingguan Sarah balik ke rumah.

Karena kecapean, pikiran maupun fisik. Sekarang giliran Mami (begitu anak-anak kami memanggil ibunya) jatuh sakit. Diagnosis dokter Mami kena tipes. Waduh...sesaat kami kebingungan juga. Tipes bukan penyakit ringan, kami khawatir anak-anak akan gak terurus bila harus opname di rumah sakit. Alhamdulillah, Allah SWT memberi petunjuk. Mami gak jadi di opname, hanya rawat jalan. Sebagai bala bantuan, terpaksa kami datangkan Embah dari Jakarta. Ya ... tampaknya sudah menjadi pola keluarga muda, untuk selalu memanggil orang tua. Sekalian juga bisa nengokin cucunya.

Pertanyaan Mengejutkan...

Sore hari, sesaat kami pulang kantor. Sarah menegur kami "Bapak jangan merokok!". Kenapa? Balik kami bertanya. " Nanti bapak jantungan, bisa mati, kalau mati bapak nggak pulang-pulang". Balik lagi kami menjawab " Kalau sudah takdirnya mati yang harus ikhlas".

Sejenak kebingan Sarah bertanya lagi, " Apa itu takdir?. Kami jawab, " Takdir itu ketentuan Allah SWT". Tanya lagi dia, "Apa itu ketentuan?. Kami jawab lagi, " Ketentuan itu kepastian Allah SWT".

Apa yang terjadi....Sarah, anak kami yang baru 5 tahun, tampak kebingungan. Bagi anak seusia dia jelas tidak mudah untuk menangkap kosakata ketentuan, kepastian dan sejenisnya. Kami sebagai orang tua mengakui tidak gampang memberi penjelasan yang tepat untuk kosa kata itu agar dipahami oleh anak seusia dia. Perstiwa sore hari itu, mengingatkan kembali bagi kami untuk senantiasa berhati-hati dalam berkomunikasi dengan anak

Demam Berdarah

Sarah, anak kami yang pertama, tampaknya sedang diberi ujian oleh Allah SWT. Selama hampir 5 hari dirawat di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Dokter memvonis dia kena demam berdarah. Hari sabtu adalah hari pertama dia mondok dirumah sakit. Sebetulnya sudah 4 harian badannya panas tinggi mulai hari selasa, bukan hanya panas, tapi sering dia muntah-muntah. Kami baru membawanya ke rumah sakit hari sabtu. Tampak bintik-bintik merah di ke dua tangannnya.

Dua hari pertama, badannya lemas, muka pucat dan ngga ada gairah sebagaimana hari-hari biasanya dia di rumah maupun di sekolah.

Tiap pagi Sarah diambil darahnya sedikit untuk tes trombosit. Maklum anak kecil, jelas dia nangis menahan sakit, meski ambil darah cuma sebentar dan cuma sedikit.

Tapi ada yang membanggakan bagi kami, Sarah tidak sulit untuk diatur. Ketika kami tinggal sendirian di rumah sakit, misalnya karena kami harus pulang ke rumah sebentar untuk ambil pakaian, Sarah tidak protes dan memahami kerepotan kami.

6/22/2007

Matikan TV Sebentar

Para ahli komunikasi maupun ahli pendidikan anak banyak menyimpulkan tentang dampak buruk Televisi bagi perkembangan anak-anak. Buku yang baru saja kami baca Membuat Anak Gila Membaca karya Ustadz Fauzil Adhim mengutip banyak pendapat tentang hal itu. Kami mencoba untuk mengurangi jadwal nonton TV bagi Sarah & Azka. Bahkan hampir tiap hari tidak ada lagi waktu bagi mereka untuk nonton TV.

Pagi ini kami coba untuk memulai. Habis shubuh TV sengaja kami cabut saklarnya. Biasanya Sarah & Azka duduk manis menonton acara kesukaan mereka, dengan terpaksa kami hambat keinginan mereka.

Apakah mereka nurut, nggak. Mereka protes, tentu dengan lagak mereka sebagai anak kecil. Gimana supaya gak protes? Kami alihkan kegiatan mereka untuk membaca majalah untuk anak serial MIO dari DarMizan. Kadang kami biarkan saja mereka mau apa saja asalkan nggak nonton TV.

Kami gelar tikar di dapur belakang, kami duduk berempat, tapi seringnya juga hanya bertiga Sarah, Azka dan Bapak. Ke mana Mami, biasanya mami masak buat sarapan. Sarah menyebut gelar tikar ini sebagai piknik. Sarah, yang sudah bisa membaca kata demi kata, lebih suka huruf-huruf dengan size yang besar. Azka yang sama sekali belum bisa membaca, biasanya hanya suka dengan gambar-gambar dan menyebutkan nama gambar itu. Oleh karena itu, buku dengan banyak gambar dan variasi warna tampaknya menjadi kesukaan mereka. Kegiatan tersebut kelihatannya sepele benar. Tapi sesungguhnya kami senang punya kebiasaan baru di pagi hari (ba'da shubuh) untuk membaca. Alhamdulillah.

6/08/2007

Sekolahku

Sekolah Sarah & Azka, bersekolah di TKIT Salman Al Farisi Warungboto Yogyakarta. Tahun ini adalah tahun ke 4 Sarah sekolah di sana, sedangkan Azka ini tahun pertamanya. Sarah mulai bersekolah sejak taman Batita, terus Kelompok Bermain, dilanjutkan TK A dan sekarang TK B. Azka tahun ini baru Kelompok Bermain.

Sekolah ini sudah cukup lama berdirinya. Kalau gak salah sejak tahun 1992. Tingkatan kelas ada 4 yaitu Taman Batita, Kelompok Bermain, TK A dan TK B. Kecuali Taman Batita, tiap kelas saat ini ada 2 group. Mbak Sarah masuk kelas TK B Anggur, sedangkan Azka masuk kelas KB Cery.

Lokasi tidak jauh dari rumah (kontrakan) kami. Perjalanan naik motor sekitar 10-15 menit saja. Sekolah menerapkan sistem semi full day, mulai jam 8 pagi dan selesai jam 1 siang, kecuali hari Kamis jam 11 saja. Kelas dibuat sistem sentra, ada sentra bahasa, ada sentra Matematika, ada sentra Seni, ada sentra Komputer, ada sentra Konstruksi. Tiap kelompok kelas nanti akan bergantian belajar di tiap sentra masing-masing. Jadi siswa yang mengelilingi kelas dan guru. Di jaman kami justru guru yang mengelilingi kelas.

Kadang-kadang di datangkan juga pihak lain untuk memberi materi buat anak-anak. Misalnya untuk pengenalan profesi dokter, sekolah mendatangkan dokter (biasanya diambil dari orang tua siswa yang kebetulan jadi dokter), atau beberapa bulan lalu, ada juga pilot penerbang, karena ada orang tua yang kebetulan di Angkatan Udara.

Bangunan terdiri dari 3 lantai, lantai pertama untuk mushola, kantor administrasi dan ruang tamu. Di lantai ini juga ada TV dan player, biasanya untuk memutar film anak-anak. Di lantai 2 ada kelas-kelas sentra dan ruang UKS. Di lantai 3 ada perpustakaan dan ruang-ruang sentra. Tapi sebetulnya lantai 2 dan 3 ini jadi satu. Di bagian belakang sekolah, ada area bermain, biasalah.... ada prosotan, jungkat-jungkit, ayunan, main pasir dan kelas untuk Taman Batita.

Sebulan sekali ada jadwal berenang dan kunjungan ke luar, misalnya ke museum, kantor pemerintah (kecamatan, kelurahan). Tiap tahun ada acara piknik, namanya rihlah, tahun lalu kami rihlah ke Tawangmangu. Tutup tahun selalu ada. Isinya pentas seni dan wisuda anak-anak.

Yah.....mudah-mudah kami tidak salah menyekolahkan Sarah & Azka. Mudah-mudah mereka menjadi anak taat beragama dan punya kecerdasan.