8/15/2007

Azka Kecil

Teman-teman kami bilang Azka waktu kecil looks like western baby. Putih bersih, kepala dengan jenong besar, rambut yang tipis cenderung samar-samar. Teman-teman bilang bayine apik banget.


Lahir 11 Oktober 2004 di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta jam 2 malam. Dokternya Dr Mujayyanah SPOG, salah seorang dokter ahli obstetri dan ginekologi. Alhamdulillah lahirnya lancar-lancar saja, masuk rumah sakit sekitar jam 1-1/2 2 malam, ditunggu beberapa saat, lalu bayinya keluar. Berat 3 kg dan panjang 50 centi, ukuran normal untuk bayi jaman sekarang.

8/09/2007

Seragam Sekolah

Anak-anak setiap sekolah pake seragam yang sudah ditentukan sekolah mulai dari Senin hingga Jum'at, kecuali hari Rabu boleh pakaian bebas. Seragam untuk setiap hari Senin adalah atasan biru dan bawahan biru.

Seragam untuk olah raga juga ada. Dipakai tiap Selasa dan Jum'at. Hari selasa dan jum'at biasanya sekolah ada kegiatan jalan-jalan atau senam bersama. Berbahan dasar kaos dan berlengan panjang. Di kanan bawah atasan ada nama masing-masing. Tapi untuk Azka, celananya masih kepanjangan, terpaksa digulung dulu di bagian pinggang. Meskipun kedodoran, anak tetaplah mempunyai rasa percaya diri yang kuat. Tetap gagah melangkah, berangkat menuju sekolah, TKIT Salman Al Farisi Warungboto Yogyakarta.


Kalau seragam hari Kamis lain lagi. Bawahan warna merah hati, atasan warna merah muda dilapisi rompi warna merah hati. Setiap seragam di baju atas ada namanya tertulis di kanan bawah. Untuk membedakan dengan baju teman-temannya

Wah...anak-anak semakin keren dengan baju seragam mereka. Melangkah tegap menuju sekolah dengan keceriaan di raut wajah mereka.

Gempa Lagi

Malam tadi sekitar jam 12 an lebih dikit. Anak-anak terbangun dari tidur nyenyaknya. Ada apa??? Gempa kembali mengguncang kota kami (dan mungkin kota lainnya juga). Getaran cukup lama dan cukup keras. Motor kami yang sedang parkir saja goyang-goyang. Anak-anak yang sedang tidur terpaksa langsung kami gendong. Azka digendong Maminya dan Sarah digendong Bapak. Terus kami lari keluar rumah. Semua warga di gang rumah kami sudah ada di luar. Antisipasi kalau-kalau ada tembok yang runtuh atau apa saja.

8/08/2007

Kenangan Masa Kecil

Mbak Sarah, kami katakan relatif anak yang pemberani. Umur 2,5 tahun dia sudah berani sekolah tanpa kami tungguin. Beda dengan adiknya, Azka, diumur yang sama Azka mesti ditungguin Maminya beberapa hari. Kalau nggak ditungguin, nangis dia.

Kami teringat ketika Sarah main ke tempat pakdenya, lengkapnya Pak De Tono di Sawangan Bogor. Di depan rumah ada kambing yang berkeliaran memakan rumput halaman. Sarah tanpa takut mendekati kambing bahkan menarik-narik tali kekang. Tiada rasa takut terlihat dari raut wajah dia. Yang ada adalah rasa ingin tahu.
Begitulah anak-anak kita. Awalnya mereka tidak takut sama sekali dengan dunia luar. Terkadang justru kitalah yang membuat rasa takut muncul. Kita terlalu sering melarang dengan berbagai dalih, takut cidera, takut luka dsb. Bahkan justru kita menakut-nakuti untuk memudahkan kita mengurus anak. Anak gak mau makan, kita takuti nanti dimakan kucing. Akhirnya muncul persepsi kucing adalah binatang yang suka memakan makanan kita. Anak laki-laki gak nurut, kita takuti nanti disunat lho... padahal sunat adalah tuntunan agama. Anak jadi takut karena kita terlalu sering menakuti mereka.

Jalan Kaki ke Sekolah

Menunjukkan kemandirian, tampaknya ingin ditunjukkan mbak Sarah kepada kami dalam minggu-minggu ini. Minta kamar sendiri, minta mandi sendiri dsb.

Hari ini, adalah hari ke tiga Sarah minta bersekolah diantar tidak sampai di halaman sekolah. Bisanya kami mengantar sekolah dan berhenti tepat di halaman sekolah. Turun dari motor, anak-anak tinggal jalan kaki sekitar 5 meteran. Tiga hari terakhir ini lain, Sarah minta kami berhenti jauh dari halaman sekolah. 100 meter sebelum sampai sekolah, kami diminta berhenti. Terus mereka berdua minta jalan kaki hingga di sekolah.

Tampaknya memang usia Sarah, 5,5 tahun mulai mencoba-coba untuk merasakan sesuatu secara mandiri. Dia tidak ingin banyak campur tangan dari orang tuannya.

Minta Kamar Sendiri

Bisanya, tiap hari Sarah & Azka tidur bersama Maminya. Entah kenapa malam tadi, Sarah minta tidur sendiri di kamarnya sendiri. Terpaksa deh, kamar depan yang biasanya untuk tempat peralatan anak-anak, misal tas sekolah, sepeda mereka, buku-buku, mainan-mainan mereka, kami harus rombak untuk memasukkan satu tempat tidur. Nah, jadilah mbak Sarah tidur sendiri tadi malam.

Mungkin kemandirian ingin dia tunjukkan kepada kami. Tidur sendiri dan beresin tempat tidur sendiri dia lakukan dengan kesadaran tanpa kami harus menyuruhnya.

Membaca Bersama Adik

Tidak sedikit para keluarga muda beranggapan bahwa banyak anak justru merepotkan. Kami kira anggapan demikian tidaklah selalu benar. Kalau kita mampu mengelola keluarga dengan baik, bahkan justru banyak anak akan memudahkan kita untuk mendidik anak-anak kita sendiri.

Tanpa bermaksud meninggikan hati, Alhamdulillah kami diberi titipan anak oleh Allah SWT dengan segala kemudahan. Salah satu kemudahaan yang kami rasakan adalah kemampuan Sarah sebagai kakak yang mempu me-ngemong adiknya, Azka, dengan sangat baik. Kalau adiknya sakit, Mbak Sarah akan sangat sigap membantu kami. Kalau Azka nangis, mbak Sarah cepat-cepat memeluknya supaya berhenti nangis. Kalau Azka pake baju, mbak Sarah pasti sibuk mencarikan celana, baju dan membantu memakaikannya.

Ini satu kemudahan lagi. Mbak Sarah, karena sudah bisa membaca, paling seneng membacakan bacaan buat adiknya. Ambil buku, adiknya duduk di samping, lalu mbak Sarah membacakan lembar-demi lembar buku yang di baca. Azka akan tekun mendengarkan bahkan kadang-kadang mengikuti kata-kata yang diucapkan oleh kakaknya. Hal ini meringankan kami, tugas membaca berpindah dari kami ke mbak Sarah.
Azka paling senang membaca buku-buku kategori WPB (wordless paper book). Cirinya adalah banyak gambar dengan tulisan yang sedikit dan penggunaan font huruf yang besar. Dan tentunya warna-warni gambar sangatlah kuat. Warna dan bentuk gambarlah yang membuat mereka tertarik dengan isi buku. Kontent buku sangatlah sederhana dan tidaklah rumit. Buku terbitan DAR Mizan biasanya kami miliki.

Sarah lain lagi. Buku WPB tampaknya sudah mulai gak menarik lagi. Karena kontent sangatlah mudah dipahami oleh dia. Artinya tidak ada pengetahuan baru yang dia peroleh kalau hanya membaca buku WPB saja. Kami coba dengan mulai memberikan buku Ensiklopedia Mini Sains untuk meningkatkan pemahaman ilmu pengetahuan. Mengapa ensiklopedi?? Karena kertasnya tebal sehingga gak mudah sobek, gambarnya menarik, serta berwarna. Jadi, sambil memperlancar membaca sekaligus memperoleh pengetahuan yang tidak sedikit.

8/07/2007

Daftar Mathemagic

Ahad kemaren, kami kembali kunjungan ke Taman Pintar. Tapi, waduh, rame banget, buat beli tiket masuk gedung Oval saja.... antriannya panjang banget. Akhirnya kami putuskan gak jadi masuk gedung Oval. Ganti tujuan, pengen makan di foodcourt, panas banget, pengunjung padat, AC nya kecil. Gak jadi makan.

Tapi Alhamdulillah, didepan loket ada stand Mathemagic. Kursus mathematika untuk anak-anak usia dini, yang kami pikir menarik untuk ditengok. Ada petugas (mbak-mbak) yang siap dengan tangkas melayani pertanyaan dari para pengunjung. Tanya macem-macem ke petugas, terus daftar buat Mbak Sarah, lumayan ada diskon pendaftaran 20%. Tadinya pendaftaran Rp100 ribu jadi Rp80 ribu. Uang kursusnya gak mahal banget, Rp600 ribu untuk 3 bulan. Masuk 2 kali seminggu 75 menitan, tiap kelas 4-6 orang.

Syukur deh, mudah-mudah rezeki buat pendidikan anak-anak untuk bekal mereka di masa depan.

8/06/2007

Hapalan Anak Sangatlah Kuat

Salah satu hasil yang kelihatan nyata anak kami sekolah di TKIT Salman Al Farisi Warungboto adalah hapalan surat-surat pendek yang semakin hari semakin bertambah.

Hingga saat ini, surat yang sudah dihapal Mbak Sarah antara lain, Surat Al Fatihah, An Naas, Al Falaq, Al Ikhlas, Al Lahab, An Nashr, Al Kaafiruun, Al Kautsar, Al Maa'uun, Quraisy, Al Fiil, Al Humazah, Al Ash, At Takaatsur, Al Qoriah (baru 6 ayat) total jendral ada 15 surat dan 81 ayat.

Kami merenung sejenak, di umur kami dahulu, rasanya tak sebanyak itu surat yang kami bisa hapalkan. Bahkan mungkin ketika di bangku Sekolah Dasar (SD), kami baru mulai untuk menghapal surat. Bayangkan, Sarah yang umur 6 tahun saja belum, sudah sedemikian banyak surat yang mampu dia hapal. Kami sangat bersyukur dengan keadaan ini.

Di rumah, kami hampir selalu mengulang-ulang hapalan surat itu. Sebab.....kalau tidak demikian, akan mudah lupa. Misalnya, kalau kami sedang tidak sholat di masjid, biasanya Mbak Sarah kami minta untuk memilih surat yang akan dibaca Bapak sebagai imam sholat. Kadang kala, habis sholat magrib kami minta Sarah untuk qiroat sendiri hapalan yang dia bisa.

Atau kadang (dan sering) kami pinjamkan saja MP3 Player kami yang udah kami isi dengan surat-surat itu. Biasanya Mbak Sarah senang mendengarkan lewat MP3 Player.

Memang akan lebih baik juga bila anak dibacakan pengertian tarjamaah untuk tiap ayatnya. Mumpung Mba Sarah juga sudah bisa membaca sendiri. Kami akan mencoba untuk hal ini.

Ibu Guru

Ini adalah potret ibu guru kelas Mbak Sarah. Yang kiri namanya Bu Alya lengkapnya Bu Siti Aliyah, masih muda banget, tapi sangat akrab sama anak-anak. Eh... sebelum jadi Guru TK, bu Alya ini pernah daftar ke Akpol lho (Akademi Kepolisian), tapi mungkin belum jalan hidupnya, beliau tidak diterima. Tapi gak apa bu...justru guru TK membuat amal ibu lebih banyak lagi.

Disebelah kanan, Bu Yessi, lengkapnya Bu Yessi Tri Wahyuni, juga masih muda, tapi jangan ditanya, urusan mendidik anak usia dini Bu Yessi tidaklah canggung. Kebanyaakan ibu guru di TKIT Salman Al Farisi Warungboto memang mayoritas masih muda-muda. Bahkan lebih muda dari kami. Bahkan diantara mereka justru belum pernah punya pengalaman mempunyai anak. Bahkan diantara mereka ada juga yang belum berkeluarga (mudah-mudahan cepat dapat jodoh yang bu...).

Tapi jangan heran, meskipun demikian. Latar belakang pendidikan para Ibu Guru serta semangat dan kekompakan mereka membuat kami merasa nyaman menitipkan anak-anak kami kepada mereka untuk dididik menjadi generasi yang cemerlang di masa depan.

Kami serius menyekolahkan anak-anak semenjak usia dini bukannya tanpa alasan. Sebaris kalimat yang kami kutip dari Buku Faudzil Azhim yang berjudul "Membuat Anak Gila Membaca" dan "Positive Parenthing" berikut ini cukuplah menjadi pegangan.

"Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan perincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10 % sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya"

Sekolah dan Makan

Adakah hubungan antara anak yang bersekolah dengan nafsu makan. Mungkin ada.. Azka, semenjak masuk sekolah, nafsu makannya menjadi lebih banyak dibandingkan sebelum dia sekolah. Mungkin karena kegiatan di sekolah membuat dia capek. Atau mungkin juga, suasana hati dan pikiran dia menjadi lebih riang dibandingkan kalau gak sekolah.

Karena makan menjadi lebih banyak, akibatnya frekuensi minum susu dia menjadi lebih berkurang. Keadaan ini menguntungkan bagi kami. Kalau dihitung, kebutuhan susu sangatlah besar, cukup menguras kantong kami. Sustagen Junior Vanilla yang sekarton 400 gram paling-paling habis dalam 3-4 hari. Kebutuhan untuk beli susu bisa dihitung, Rp32.000 ribuan kalikan berapa karton tiap bulan.

Tutup Telinga Ada Pesawat

Satu lagi kebiasaan Azka yang unik. Rumah (kontrakan) kami, terletak tepat di bawah jalur pesawat mau landing maupun take off ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Tiap pesawat yang melintas pasti kedengaran gemuruh suara mesinnya.

Nah uniknya dimana? Setiap ada suara pesawat, Azka langsung lari menghampiri Maminya, Bapak atau Mbak Sarah. Ngapain? Dia selalu minta ditutupi kedua kupingnya. Nggak tau, dari mana dia dapat ide itu.

8/03/2007

Tidak Nangis Lagi

Hari ini dan kemaren adalah hari yang menggembirakan bagi kami. Si kecil, Azka, biasanya nangis ketika sampai di sekolah. Berontak, tidak mau di tinggal ibunya. Pengennya sang ibu selalu ada disampingnya. Tapi gak mungkin, sekolah mewajibkan anak didik untuk tidak ditungguin orang tuanya.

Kemaren dan hari ini lain. Azka sudah berani ditinggalkan. Seperti biasanya kami berangkat sekolah pagi-pagi jam 1/2 delapan sudah mulai berangkat dari rumah. Azka di depan dan Sarah di belakang. Motor melaju gak begitu kencang, maklum pagi-pagi begini Yogya masih sangat dingin. Kurang lebih 10-15 menit kami sampe di sekolah. Azka langsung turun dari motor, sesuatu yang biasanya tidak mau dilakukan. Salim ke bu guru, ucapkan salam, langsung dia masuk ke kelasnya.

Alhamdulillah, anak kami sudah berani sekolah sendiri tanpa ditunggui ibunya.